
Cerita asli
Satu Kisah, Banyak Suara di Akhir
⏱ 3–6 Min
Lin, seorang gadis di desa tepi kanal, suka melukis dengan kuas tua milik Nenek. Suatu malam, cahaya bulan menyentuh puncaknya. Ketika Lin melukis lentera kertas, separuh lentera melayang keluar dari halaman sementara separuh lainnya tetap berupa garis tinta.
Lin melukis jembatan melintasi saluran irigasi untuk para tukang kebun. Bingkai kayu setengah padat muncul, tapi tidak ada yang bisa melewatinya. Seorang tukang kayu menambahkan kayu asli dengan mengikuti denah yang dicat, dan tak lama kemudian semua orang berbagi jembatan yang kokoh.
Belakangan, kebun tersebut mengering karena saluran air jebol. Lin melukis kincir air, dan setengah set dayung menjadi nyata. Anak-anak mengumpulkan bambu, orang dewasa mengikat tali, dan tukang kebun mengarahkan air hingga roda berputar dan setiap petak mendapat bagian.
Seorang pedagang serakah mendengar tentang kuas dan memerintahkan Lin untuk mengecat peti emas. Lin menggambar separuh peti kosong dan berkata, "Sikat ini hanyalah sebuah permulaan. Separuh lainnya harus berasal dari apa yang kita lakukan." Pedagang itu tidak dapat memperoleh emas hanya dengan duduk dan menunggu.
Lin menggantungkan gulungan kertas panjang di paviliun desa. Setiap orang menggambar sesuatu yang ingin mereka tingkatkan, lalu memilih satu gambar pada satu waktu untuk dibuat bersama. Kuasnya hanya tersisa setengah sihirnya—dan itu sudah cukup, karena separuhnya lagi ada di tangan semua orang.
Imajinasi membuat kita melihat apa yang mungkin terjadi, sementara tindakan dan kerja sama membuat sebuah ide menjadi nyata.
Kuas Lin hanya dapat menghidupkan separuh dari setiap lukisan. Dia menemukan bahwa keajaibannya menjadi lengkap ketika orang-orang membangun separuh lainnya bersama-sama.
Lebih banyak cerita dari koleksi yang sama, dipilih untuk Anda