
Cerita asli
Satu Baris atau Banyak?
⏱ 3–5 Min
Di sabana yang luas hiduplah seekor jerapah yang lebih tinggi dari hewan lain dalam kawanannya. Setiap pagi dia berjalan ke pohon akasia kesayangannya, menjulurkan lehernya yang panjang ke atas, dan menggigit sendiri dedaunan hijau segar di bagian paling atas — tidak ada hewan lain yang bisa mencapai ketinggian itu.
Kemudian musim kemarau tiba, dan dedaunan di semak-semak bagian bawah layu. Hanya dedaunan di puncak pohon yang tetap hijau. Seekor anak kuda zebra dan seekor bayi babi hutan berkeliaran di bawah pohon akasia, perutnya keroncongan, menatap penuh kerinduan pada dedaunan hijau yang tidak dapat mereka jangkau — namun jerapah terlalu sibuk makan sehingga tidak menyadarinya.
Saat jerapah menundukkan kepalanya untuk pergi, dia melihat mata lapar teman-teman kecilnya. Dia berhenti diam, merasa menyesal karena tidak menyadarinya lebih awal, dan memutuskan untuk kembali ke pohon akasia.
Jerapah menjulurkan lehernya ke atas dan dengan lembut mengguncang dahan-dahan, menyebabkan setumpuk besar daun hijau segar berjatuhan ke tanah. "Makanlah," katanya pada kedua temannya. "Aku cukup tinggi untuk mengumpulkan ini untukmu. Kamu tidak akan kelaparan lagi." Anak kuda zebra dan bayi babi hutan melompat kegirangan.
Sejak hari itu, setiap kali musim kemarau tiba, jerapah akan berdiri di bawah pohon tertinggi dan mengibaskan dedaunan agar teman-teman kecilnya selalu bisa makan di sampingnya. Seluruh kawanan dengan penuh kasih memanggilnya "pohon berjalan yang baik hati" di sabana.
Memiliki lebih dari orang lain bukan hanya untuk diri Anda sendiri — ini adalah kesempatan untuk berbagi dengan mereka yang memiliki lebih sedikit.
Jerapah tertinggi di sabana menikmati dedaunan di puncak pohon sendirian, sampai dia menyadari teman-teman kecilnya kelaparan di musim kemarau dan belajar berbagi apa yang dia miliki.
Lebih banyak cerita dari koleksi yang sama, dipilih untuk Anda