
Cerita asli
Tetesan Air di Daun Talas
⏱ 3–5 Min
Setiap sore, bunga bulan putih di belakang rumah Nok mekar dengan wangi yang harum. Namun malam ini tidak ada serangga yang berkunjung. Seekor ngengat berwarna coklat pucat hanya mengitari cahaya jendela yang terang berulang kali.
Nok dan Nenek mengawasi dari beranda tanpa menyentuhnya. Nenek mematikan lampu yang tidak dibutuhkan dan meninggalkan satu lampu jalan berwarna kuning tua. Tak lama kemudian, ngengat itu terbang menjauh dari jendela.
Ia hinggap di sekuntum bunga dan meraih nektar dengan mulutnya yang panjang. Serbuk sari ikut terbawa hingga mekar berikutnya. Nok menggambar bulan, bunga, dan jalur penerbangan di buku catatannya tanpa menggunakan flash.
Keesokan harinya, Nok membuat perisai sehingga lampu kuning itu menyinari jalan setapak, bukan ke langit. Dia dan Nenek mematikan lampu setelah semua orang masuk dan menjaga satu sudut bunga tetap gelap dengan damai.
Malam berikutnya, beberapa ngengat berkunjung satu demi satu tanpa mengitari jendela. Nok memperhatikan dengan tenang dan menamai sudut itu sebagai Taman Bulan, tempat manusia dan serangga dapat menemukan jalannya masing-masing.
Peduli terhadap alam dimulai dengan mengamati dan melakukan perubahan kecil tanpa mengganggu kehidupan orang lain.
Nok bertanya-tanya mengapa bunga malamnya tidak dikunjungi dan menemukan bahwa cahaya yang terlalu terang dapat membingungkan ngengat.
Lebih banyak cerita dari koleksi yang sama, dipilih untuk Anda