
Cerita asli
Ulat dan Taman Pelangi
⏱ 3–5 Min
Seekor tikus tanah kecil sama sekali tidak menyukai hujan. Setiap kali hujan mulai turun, dia akan bergegas turun ke liang bawah tanahnya dan menutup pintu masuknya dengan rapat.
Suatu hari, temannya si katak hijau mengetuk pintu liang tikus tanah. "Ayo bermain hujan bersamaku, menyenangkan!" katanya. Namun tikus tanah itu menggeleng, takut basah dan kedinginan.
Katak itu tidak mau menyerah. Dia meminta tikus tanah itu untuk mengintip keluar kepalanya dan melihat. Dengan ragu-ragu, tikus tanah itu menjulurkan kepalanya sedikit ke luar, dan melihat tetesan air hujan berkilauan di dedaunan di bawah sinar matahari yang mengintip dari balik awan.
Penasaran sekarang, tikus tanah itu perlahan melangkah keluar untuk melompati genangan air bersama katak. Dia menemukan bahwa suara hujan di dedaunan sangat indah, dan pelangi yang muncul di langit setelahnya juga indah.
Sejak saat itu, tikus tanah tidak pernah takut lagi dengan hujan. Dia belajar bahwa membuka hatinya terhadap sesuatu yang pernah dia takuti dapat membawanya menuju kebahagiaan yang benar-benar baru.
Membuka hati terhadap sesuatu yang baru yang dulunya kita takuti atau tidak sukai dapat membawa kita pada kebahagiaan dan perspektif baru yang tidak pernah kita ketahui keberadaannya.
Seekor tikus tanah kecil tidak pernah ingin meninggalkan liangnya ketika hujan, sampai seorang teman mengajaknya bermain hujan dan dia menyadari bahwa ternyata hujan itu menyenangkan.
Lebih banyak cerita dari koleksi yang sama, dipilih untuk Anda