
Fabel AESOP
Androcles dan Singa
⏱ 2–4 Min
Di samping sungai yang lebar berdiri sebatang pohon oak yang besar, tinggi dan gagah, di samping sekumpulan alang-alang ramping yang bergoyang di tepi air. Pohon ek sangat bangga dengan batangnya yang tebal dan cabang-cabangnya yang lebar dan kokoh.
Saat angin bertiup, alang-alang ikut bengkok perlahan. Melihat ini, pohon ek itu tertawa dan berkata, "Kalian semua sangat lemah! Angin sepoi-sepoi pun mendorongmu. Bukan aku — aku berdiri teguh dan tidak pernah goyah."
Alang-alang itu menjawab dengan sopan, "Kita hanya membungkuk mengikuti angin, bukannya melawannya. Tapi kamu juga harus berhati-hati, pohon ek sayang — menjadi terlalu kaku tidak selalu merupakan hal yang baik." Namun, pohon ek itu tidak mempercayai mereka dan tetap berdiri tegak dan bangga.
Suatu malam, badai dahsyat melanda. Angin menderu sangat kencang hingga setiap pohon di hutan berguncang. Alang-alang membungkuk rendah, hampir menyentuh air, sedangkan pohon ek melawan angin dengan sekuat tenaga, tidak mau membungkuk sedikit pun.
Saat hembusan angin terkuat datang, pohon ek itu patah tepat di tengahnya dengan bunyi retakan yang keras. Alang-alang itu membungkuk mengikuti angin dan tumbuh kembali dengan selamat setelah badai berlalu. Akhirnya, pohon ek memahami bahwa membungkuk sama kuatnya dengan berdiri kokoh.
Terkadang membungkuk dengan anggun lebih kuat daripada berdiri terlalu kaku hingga patah.
Pohon ek yang kokoh dan angkuh mengolok-olok buluh yang ramping karena membungkuk tertiup angin — sampai badai besar mengajarkannya bahwa kelenturan bisa lebih kuat daripada kekakuan.
Lebih banyak cerita dari koleksi yang sama, dipilih untuk Anda